Indonesia Authorized Money Changer

DOW JONES
0.00%
NASDAQ
0.00%
Shanghai
0.00%
HANG SENG
0.00%
FTSE100
0.00%
NIKKEI
0.00%

Penguatan Rupiah Hanya Sementara

April 6th, 2010 - Tags: , ,
Posted in Umum

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati enggan mengomentari nilai tukar rupiah yang terus menerus menanjak tembus Rp9.000 per USD. Pasalnya, penguatan itu hanya untuk harian saja, tidak jangka panjang.

“Untuk tren Rp9.000 ini kan di kisaran antara Rp9.000 per USD, Rp9.100 per USD, Rp9.200 per USD, sudah bergerak di range itu selama beberapa bulan jadi saya tak akan berikan komentar terhadap situasi harian saja,” ujarnya, usai Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (5/3/2010).

Sedangkan untuk anggaran pendapatan belanaja negara (APBN) 2010, sudah dijadikan patokan untuk menghitung nilai tukar rupiah saat ini. “Kita juga lihat indikasi kemungkinan di bawah Rp9.500 per USD itu sangat mungkin terjadi sehingga dengan demikian kemungkinaan trend penguatan di Rp9.300 per USD itu bisa kita gunakan,” ungkapnya.

Dijelaskannya, kalau pergerakan rupiah dan dikaitkan dengan arus masuk, dirinya akan menyikapinya di jangka menengah saja. “Seperti dulu disampaikan adanya arus modal masuk ke dalam indonesia yang paling cepat mereka bisa beli adalah dalam bentuk surat berharga dan saham dan itu menimbulkan penguatan rupiah,” katanya.

Dirinya mengatakan, dimungkinkan perlu melihat dari sisi trend, jadi rata-rata arah dari rupiah ini dengan faktor arus masuknya modal. “Kalau hanya sebatas harian untuk beberapa movement kita tidak akan bereaksi tentunya,” katanya.

Dalam jangka menengah, jelasnya, apakah yang disebut dengan effective exchange rate atau nilai tukar efektif itu msh dalam zona yang kompetitif.

“Kalau kita lihat dari sisi kebijakan makro plus minusnya untuk ekspor itu menjadi nilai yang memberatkan kalau penguatan kita terus menerus dan cepat. Dari sisi impor murah,” ungkapnya.

Satu posisi menaikan bahan baku mentah dan bahan antara untuk bisa naikkan produktivitas di manufaktur yang membutuhkan. “Tapi di sisi lain juga akan menimbulkan perosaalnya pada neraca pembayaran di offset oleh masuknya modal itu sendiri,” katanya.

Jadi, paparnya, secara keseluruhan itu akan saling menyeimbangkan. Yang perlu diwaspadai kalau sampai terjadi distorsi karena adanya ketidakmampuan suatu sektor bergerak sesuai trend ini. “Dan kalau terjadi penguatan kemudian sifatnya mendadak dan timbulkan spekulasi terhadap mata uang,” pungkasnya.